Renungan Pergantian Tahun

Renungan Pergantian Tahun
Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

Perputaran waktu dari tahun ke tahun berikutnya merupakan tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Banyak sekali kejadian dan kenangan selama perputaran waktu tersebut yang semestinya membuahkan pelajaran berharga bagi kita semua.

Setidaknya ada 2 hal yang perlu kita renungkan bersama:

1. Intropeksi Diri

Ibarat seorang pedagang setelah berdagang, dia akan mengoreksi apakah dia mendapatkan untung ataukah malah rugi? Demikianlah semestinya seorang hamba, hendaknya mengoreksi dirinya, apakah selama tahun yang lalu dia beruntung dengan pahala amal shalihnya ataukah dia rugi dg dosanya. Allah berfirman dalam Al-Qur‘an:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌۭ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۢ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿١٨﴾

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr [59]: 18)

Dengan mengoreksi seperti ini, kita akan mendapat tiga faedah:

✅-Kita akan menyibukkan diri dengan dosa kita sendiri dan tidak menyibukkan dosa orang lain, apalagi pada zaman sekarang yang penuh dengan gosip—isu yang kadang benar tetapi tak jarang hanyalah dusta dan omong kosong belaka.

✅-Kita akan mengagungkan Allah, mengakui dosa-dosa kita dan banyak meminta ampunan dari-Nya.

✅-Kita akan memperbaiki diri kita dan tidak terjatuh dalam kesalahan untuk kedua kalinya.

2. Mengingat Kematian

Dengan datangnya tahun baru berarti umur kita bertambah, dan kematian semakin dekat. Perhatikanlah rembulan, di awal bulan dia kecil, kemudian membesar ketika di pertengahan bulan, lalu dia mengecil lagi di akhir bulan. Demikianlah juga keadaan manusia, awal lahir dia kecil, kemudian tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan segar, lalu dia tua dan lemah, kemudian meninggal dunia. Allah Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةًۭ ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ ﴿٣٥﴾

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. Al-Anbiyā‘ [21]: 35)

Apabila kita mengingat kampung akhirat dan kematian, maka kita akan mendapatkan tiga faedah:

✅-Semangat dalam ibadah dan membaguskannya karena dia merasa bahwa amalnya masih sedikit dan banyak dosa, barangkali ini ibadah yang terakhir kali.

✅-Segera dalam taubat, dia tidak menunda-nunda sembari berkata, “Oh, nanti saja kalau sudah tua, sekarang selagi masih muda senang-senang dulu, dosa-dosa sedikit gak masalah.” Subhanallah, siapa yang tahu kapan kita akan meninggal dunia?? Mungkin setahun lagi, sebulan lagi, seminggu lagi, satu jam, atau satu menit lagi—kita tidak tahu—lantas kenapa taubat perlu ditunda-tunda??

✅-Qana’ah dengan rezeki dari Allah. Apa yang telah Allah rezekikan kepada kita dari yang halal, marilah kita syukuri, dan kita merasa cukup dengannya. Adapun apabila kita merasa tidak cukup dengan rezeki Allah, maka gaji seratus juta per bulan pun niscaya akan terasa masih kurang, demikianlah sifat manusia. Maka lihatlah orang-orang yang di bawah kita, jangan lihat yang lebih atas. Kalau kita masih bisa makan tiga kali sehari, lihatlah masih banyak saudara kita yang belum punya rumah, kelaparan, dan kesusahan untuk mencari makan walaupun hanya sekali dalam sehari.

Semoga kita termasuk orang yg cerdas untuk memanfaatkan waktu guna menabung demi kehidupan yg hakiki di sana.

Semoga Allah memberikan kita semua nikmat untuk berburu Ridho NYA aamiin

Barakallah saudaraku

Sumber : Mentari Bersinar Senja

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter