Nasib Baik dan Buruk adalah Takdir

Nasib Baik dan Buruk adalah Takdir
HUSSEIN Kazemi telah berkali-kali menghadapi bahaya. Mungkin itu sebabnya, remaja ini masih bisa tersenyum saat duduk di ranjang rumah sakit dengan luka tembakan di kedua kaki dan sebelah lengannya.

Pencari suaka dari Afganistan itu, yang mencari tempat berlindung yang aman di Norwegia dua tahun lalu, adalah seorang dari puluhan korban yang masih dirawat di rumah sakit. Mereka terluka setelah seorang pria menembak membabi buta di Pulau Utoya, tempat perkemahan musim panas yang diikuti Kazemi, yang menewaskan 68 orang.

”Saya mengalami banyak bahaya di Afganistan. Tetapi, ini adalah pengalaman terburuk yang pernah saya alami,” kata pemuda berusia 19 tahun itu dalam wawancara di rumah sakit, Minggu (24/7), dua hari setelah serangan itu.

Walau demikian, Kazemi masih mempunyai pandangan positif mengenai negeri angkatnya. ”Saya telah mengalami banyak kebaikan di Norwegia, begitu banyak kebaikan,” katanya.

Kazemi berada di kafetaria perkemahan, Jumat lalu, ketika dia mendengar keributan di luar: suara seperti petasan, lalu jeritan. Mereka yang sadar apa yang terjadi segera bertiarap, dan Kazemi mengikuti.

Lalu, dia melihat pria bersenjata itu. Orang-orang di sekitarnya berjatuhan tertembak. Bersama yang lain, dia berlari sekuat tenaga selama 10 menit ke arah hutan. Pria bersenjata itu mengikuti mereka sampai pantai yang berbatu karang sambil terus menembaki.

Mula-mula Kazemi bersembunyi di balik karang sampai tembakan menghujaninya. Ia lalu melompat ke air yang membekukan walau tidak pernah belajar berenang. Dia bergantung di sebuah karang yang menonjol agar tidak tenggelam.

Pria itu terus mengamuk, menembaki peserta perkemahan di air, lalu mengincar mereka yang di berada pantai.

Sampai akhirnya jeritan-jeritan berhenti.

Kazemi berbaring tak bergerak di tepi laut selama setengah jam ketika polisi datang dengan kapal menangkap pria itu.

Dibantu dua kakaknya, Kazemi memperlihatkan lukanya: di kedua paha, di pergelangan kaki, dan di lengan kirinya.

Ia tak menganggap Norwegia sebagai tempat yang bermusuhan. Ia berkisah telah melewati banyak bahaya di kota asalnya Herat, Afganistan barat laut, dan tidak pernah meragukan dia bisa melewati ini juga.

”Anda hidup hanya sekali dan Anda harus menerima yang baik dan yang buruk,” kata anak muda yang terus tersenyum itu.

”Kedua hal itu akan selalu ada. Hidup seperti itu. Ada masa baik dan masa buruk. Di sebuah tempat berbahaya, Anda selalu punya kemungkinan untuk hidup, dan di tempat yang aman Anda selalu punya kemungkinan tewas terbunuh. Itulah takdir dan Anda tidak bisa menghindarinya.” (AP/DI)

Sumber : Kompas Cetak

Sumber : kompas.com (26 Juli 2011)

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter