Selamat Jalan Mbah Maridjan

Mbah Maridjan Meninggal, Tertimbun Abu dan Bersujud

Selamat Jalan Mbah Maridjan Juru Kunci Merapi - Indonesia BorneoYOGYAKARTA - Mulai Rabu 27 Oktober, Gunung Merapi yang disebut-sebut sebagai gunung berapi paling aktif di dunia, tak lagi dijaga juru kunci yang sangat legendaris, Mbah Marijan. Sosok berumur 83 tahun yang bernama lengkap Mas Panewu Surakso Hargo tersebut, ditemukan meninggal di kamar pribadi kediamannya di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman.

Jasad yang diyakini Mbah Marijan itu ditemukan pukul 06.30 oleh para relawan dari tim SAR dan PMI. Saat ditemukan, tubuhnya tertimbun abu Merapi. Setelah diangkat, posisinya dalam keadaan bersujud. Diperkirakan, Mbah Marijan terkena semburan awan panas pukul 17.45.

Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman Yogyakarta - Indonesia Borneo
Evakuasi jenazah Mbah Marijan agak sulit dilakukan. Sebab, medan yang harus dilalui tertutup pohon-pohon tumbang dan abu vulkanik setebal 30 sentimeter yang saat itu masih panas. Oleh para relawan, jasad Mbah Marijan langsung dibawa ke RSUP dr Sardjito untuk diidentifikasi lebih lanjut.
Lafal tahlil selalu didengungkan para evakuator saat mengangkat jenazah Mbah Marijan, mulai saat dikeluarkan dari kamarnya hingga menuju ambulans.

Mbah Maridjan Meninggal, Tertimbun Abu dan Bersujud - Indonesia Borneo
Keyakinan bahwa jasad yang sedang bersujud itu adalah Mbah Marijan disampaikan Asih, anaknya. "Inna lillaahi wa inna ilaihi raajiun," tutur Asih kepada Radar Yogya (Grup FAJAR) setelah menerima kabar penemuan bapaknya oleh relawan dan tim SAR.

Mbah Maridjan Meninggal, Tertimbun Abu dan Bersujud - Indonesia Borneo
Berita meninggalnya Mbah Marijan tersebut membuat istri, anak, menantu, serta cucu-cucunya syok. Di kediaman Agus Wiyarto, salah seorang kerabat dekat Mbah Marijan, di Jalan Kaliurang, mereka memanjatkan doa untuk sang juru kunci. "Subhanallah. Mbah Marijan mudah-mudahan khusnul khatimah," ujar Agus yang selalu mendampingi Asih.

Ucapan belasungkawa terus mengalir dari kerabat, sanak saudara, dan teman melalui handphone yang dibawa Asih. Setelah dirapatkan, keluarga memutuskan akan melaksanakan salat jenazah pukul 16.00. Waktu itu dipilih karena menunggu kedatangan Widodo, anak Mbah Marijan yang selama ini tinggal di Jakarta.

Pukul 16.05, Widodo dan istrinya tiba di rumah Agus. Isak tangis mengiringi kedatangan Widodo. Pria berkacamata tersebut menangis sejadi-jadinya di depan ibunya. Sementara istrinya, berpelukan dengan Murni, menantu Mbah Marijan. Pemandangan sore itu pun penuh haru.

Setelah itu, keluarga dibawa dengan tiga mobil menuju RS Sardjito. Setiba di rumah sakit, mereka langsung menuju tempat jasad Mbah Marijan disemayamkan. Semula, keluarga akan menyalati jenazah Mbah Marijan di masjid rumah sakit itu.

Namun, rencana tersebut berubah setelah pihak rumah sakit belum mengizinkan Mbah Marijan dibawa keluar. Keluarga pun menunggu. Kepada Radar Yogya, Asih menyampaikan permintaan maaf kepada siapa pun yang pernah bertemu dan berhubungan dengan Mbah Marijan.

"Saya mewakili keluarga menyampaikan permohonan maaf bila ada salah yang dilakukan bapak," ucap Asih dengan suara parau.

Dia mengungkapkan, bapaknya akan dimakamkan di Pangukrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Lokasi itu berjarak sekitar dua kilometer di bawah Kinahrejo. Pemakaman dijadwalkan pukul 10.00 hari ini, Kamis 28 Oktober.

Masyarakat yang ingin ikut menyalati jenazah Mbah Marijan diberi kesempatan hingga pukul 09.00 pagi ini. Sebab, sejak kemarin hingga pukul 09.00 hari ini, jasad Mbah Marijan berada di rumah sakit. Setelah pukul 09.00, jenazah almarhum dibawa ke Pangukrejo untuk dimakamkan.

Sumber: Fajar.co.id (28 OKTOBER 2010) Borneo


Keteladanan Seorang Pemberani

Mbah Maridjan - Keteladanan Seorang Pemberani - Motivasi Indonesia BorneoMBAH Marijan adalah inspirator saya. Saya pertamakali mengenal beliau pada 28 Mei 2006, sehari setelah gempa berkekuatan 7,6 richter memporak-porandakan Yogyakarta, Bantul, Prambanan, Wonosari, dan Klaten. Pertemuan terjadi di rumahnya, Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.

Yang memperkenalkan adalah almarhum Sumadi Wonohito, pemilik koran Kedaulatan Rakyat Jogja. Saya masih ingat, waktu itu Pak Sumadi mengatakan; “Pak Irwan ini dari Jakarta, pemilik pabrik jamu yang besar.” Tapi, jawaban Mbah Marijan hanya; “Injih,.... injih .....injih.".

Karena jawabannya hanya injih, Pak Sumadi menambahkan; “Pak Irwan ini orang kaya.” Tetapi Mbah Marijan tetap menjawab “injih” dan matanya tak berpaling ke arah saya. Saya juga merasa tidak nyaman dengan jawaban yang diberikan. Tapi, dalam hati saya kagum, karena dia tidak silau oleh keduniawian.

Pembicaraan dengan beliau baru cair setelah saya menyebut nama Anton Sujarwo dari Yayasan Dian Desa, ipar saya yang pernah membantu menyiapkan air bersih untuk warga desa tempat Mbah Marijan tinggal. Karena itu pula dia akhirnya mau menerima tawaran menjadi bintang iklan Kukubima Ener-G.

Shooting dilakukan pada tanggal 26 Juni 2006 di Kaliadem dekat rumahnya, di bawah ancaman Gunung Merapi yang sedang mengeluarkan awan panas. Tempat tersebut hanya 4 kilometer dari puncak. Shooting berjalan lancar, iklannya pun disukai masyarakat. Kalau saat ini harus mengulang shooting di tempat seperti itu, saya tidak akan berani.

Tanggal 26 Oktober 2010, pukul 19.20 WIB saya menelepon Asih, anak Mbah Marijan. Saya mendapat kabar bahwa seluruh keluarganya telah mengungsi. Mbah tidak mau turun meskipun sudah dipaksa. Katanya kepada anaknya, dia mau salat. Dan, malam itu, ternyata wedus gembel menghanguskan rumah Mbah Marijan.

Termasuk Mbah yang meninggal dalam posisi sujud di dapurnya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Tentang sikap Mbah Marijan yang bersikeras tetap tinggal di desanya yang sudah siaga satu, terjadi banyak pendapat. Yang pertama, menilai sebuah kebodohan. Pendapat lain menyatakan itu adalah sebuah tanggung jawab dan pengabdian yang luar biasa .

Bagi saya pribadi, apa yang menjadi keputusan Mbah Marijan untuk tetap tinggal adalah sebuah cerminan dari sebuah kesetiaan, keberanian, dan sebuah pengabdian yang langka di zaman ini. Jika benar Mbah Marijan wafat, dia telah menepati janjinya untuk menjaga Gunung Merapi sampai akhir hayat. Seperti yang telah dijanjikan pada Sultan Hamengkubuwono IX pada waktu diangkat sebagai juru kunci Gunung Merapi. Soal kematian itu sendiri adalah “rahasia Tuhan”.

Kami keluaga besar Sidomuncul akan selalu mengenang semua kebaikan dan keteladanannya. Bagi kami, “sang pemberani akan tetap hidup”. Iklannya akan tetap tayang, sebagai penghargaan atas kesederhanaan, kesetiaan, keberanian, dan pengabdiannya. Selamat jalan Mbah Marijan. Selamat jalan Sang Pemberani. Rosa Rosa Rosa!.

Irwan Hidayat *Penulis adalah bos PT Sidomuncul.

Sumber: Fajar.co.id (28 OKTOBER 2010) Borneo

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter