Hikmah dari Sebuah Helm

Hikmah dari Sebuah HelmHampir lima belas menit aku mencari, namun tak kutemukan helm yang kuanggap itu adalah helmku. Tak kurang dari sepuluh helm yang serupa dengan helmku, dan aku sama sekali tidak bisa memastikan yang mana helmku. Aku hanya tahu helm ku berwarna hitam, namun aku tak tahu ciri khusus helm yang setiap hari kupakai untuk berangkat kerja bahkan kemanapun aku pergi karena helm itu adalah satu-satunya yang kumiliki. Dan sore itu terpaksa aku pulang melalui jalan alternatif yang arahnya memutar sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk menghindari polisi.

Sebenarnya bisa saja aku pulang melalui jalur yang biasa kulewati, toh tak jauh dari tempatku bekerja ada beberapa penjual helm pinggir jalan. Aku bisa berhenti sebentar dan membeli helm di sana. Namun itu menjadi tidak mungkin karena aku tahu persis jumlah uang dalam dompetku tidak cukup untuk membeli sebuah helm meski untuk harga yang paling murah sekalipun. Ah, tiba-tiba helm menjadi begitu penting dan sangat mahal bagiku.

***
Seringkali, kita memandang remeh terhadap sesuatu yang sebenarnya sangat kita perlukan hanya karena sebuah kebiasaan ataupun rutinitas. Kehilangan helm yang kualami adalah contoh nyatanya. Aku tak mengenali dengan baik sesuatu yang telah memberikan manfaat besar kepadaku. Setiap hari, kemanapun aku pergi, dia selalu memberiku rasa aman dan nyaman. Namun kenyataannya, aku tak tahu lebih banyak tentang helmku.

Hal lain yang juga sering terjadi adalah, kita kerap memandang sebelah mata pada orang-orang yang sebenarnya memberikan peran penting dalam keseharian kerja. Pembantu rumah tangga, office boy adalah mereka yang acapkali tak terlihat jasa besarnya dalam menyelesaikan berbagai macam tugas rumah dan kantor kita. Saat pembantu sedang sakit atau pulang kampung, kita baru sadar bahwa tak mungkin kita melakukan semua pekerjaan rumah sendiri dengan hasil dan waktu yang sama jika dikerjakan oleh pembantu kita. Begitupun saat office boy tidak masuk kerja, seakan semua pekerjaan menjadi tertunda karena kita harus mengerjakan semuanya sendiri, termasuk fotocopy dan mendistribusikan laporan ke departemen lain. Kita baru merasa sangat membutuhkan mereka pada saat mereka tak ada.

Tak hanya benda atau orang, kita juga sering tak bisa ‘melihat’ sesuatu yang sangat dekat dengan kita. Kesehatan misalnya. Dengan nikmat sehat, segala aktifitas pekerjaan bisa kita lakukan dengan lancar. Namun sayangnya kita terkadang baru menyadari dan mensyukuri betapa besarnya nikmat sehat itu manakala kita tak bisa melakukan berbagai aktifitas harian kita karena sakit.

Dekat tapi tak terlihat. Itulah yang sering terjadi pada diri kita. Kita menganggap sesuatu, seseorang atau sebuah nikmat menjadi kecil, biasa, tidak bernilai hanya karena sesuatu, seseorang ataupun nikmat itu setiap hari, setiap saat ada di sekitar kita, bersama-sama kita. Bahkan terkadang kita merasa bahwa keberadaan mereka itu bukan sebuah anugerah melainkan sesuatu yang memang semestinya ada. Kebiasaan kita menganggap kecil dan biasa terhadap mereka, paling parah adalah akhirnya membuat kita lupa bersyukur kepada yang telah menganugerahkan mereka kepada kita, yaitu Allah SWT.

Kita lupa bersyukur kepada Allah bahwa dengan adanya suatu barang atau fasilitas, kehidupan kita menjadi lebih aman dan nyaman. Kita lupa bersyukur kepada Allah bahwa dengan kehadiran orang lain, pekerjaan dan urusan kita menjadi lancar dan ringan dikerjakan. Kita lupa bersyukur kepada Allah bahwa dengan nikmat sehat, hidup kita menjadi bergairah. Kita terkadang lupa bersyukur kepada Allah dengan segala nikmatNya yang tak terhitung, hanya karena nikmat itu selalu ada, dekat dengan kita.

Jangan biarkan rasa penyesalan datang. Mari kita syukuri segala nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita, salah satunya dengan memberikan perhatian yang berbeda dari biasanya ( peduli ) terhadap apapun di sekililing kita. Karena dengan peduli terhadap mereka, maka rasa syukur akan muncul. Betapa besar nikmat yang Allah berikan, tak ada satupun yang kebetulan ataupun sia-sia.


Sumber : Catatan Yusuf Mansur (19 Mei 2010) Borneo

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter